Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 September 2015

Semangat Yang Beralih

Saya pernah membaca kisah Minke yang dibingkai dalam goresan pena Pramoedya, Tetralogi Pulau Buru. Saya membaca dari bagian pertama, Bumi manusia, Anak semua bangsa, Jejak langkah, hingga Rumah kaca. Orang-orang tentu sudah mengetahui bahwa novel itu adalah produk sejarah yang penting untuk dibaca generasi muda, guna memahami identitas diri sebagai pribumi dan bangsanya sendiri sebagai bagian dari bumi manusia. Yah, setidaknya mengantarkan kita kepada paham yang sungguh membenci keserakahan yang menggumpal dan mewujud menjadi kolonialisme atau imperialisme itu.

Senin, 17 Agustus 2015

"Andai kata aku seorang Indonesia merdeka"

1913 silam sebuah artikel diterbitkan oleh surat kabar De Express yang dipimpin Douwes Dekker. Judul artikel itu kira-kira seperti ini, "Als ik eens Nederlander was." Yah, Artikel itu goresan pena Soewardi Soerjaningrat, atau yang akrab di telinga kita, Ki Hajar Dewantara. Bapak pendidikan kita sendiri. Artikel tersebut menggemparkan seluruh struktur pemerintahan Hindia-Belanda saat itu, bagaimana tidak, artikel itu adalah sindiran sinis sekaligus suara seluruh pribumi yang terjajah mengendap-ngendap dalam tiap goresan huruf seraya berteriak di baliknya.

Rabu, 24 Juni 2015

Feminisme A la Kapitalisme

Suatu malam saya melihat sebuah program acara di TV yang isinya mayoritas perempuan. Tak usah kusebut program dan channel-nya, sebab akan berpotensi mempromosikannya, ataupun dicegat karena mencemarinya. Perempuan disebutkan menjadi subjek utama program tersebut, sebab program tersebut adalah program yang menghendaki kompetisi kecantikan. Lazimnya orang mengetahui program tersebut adalah pintu untuk mengakses dunia modeling yang konon penuh warna-warni dan kemewahan hidup. Dengan demikian, program ini dipenuhi dengan wajah-wajah yang menghiasi layar kaca dengan keeksotisannya, kecantikannya, dan tentu keseksiannya.

Sabtu, 06 Juni 2015

Seni Kekuasaan

Kekuasaan tidak lain adalah kepemilikan otoritas untuk mengatur sesuatu yang dikuasai. Kuasa bisa dimiliki oleh ia yang merupakan pewaris dari autokrasi, oleh mereka yang bangsawan, oleh mereka yang memiliki cap kemuliaan berdasarkan kepemilikan modal, oleh mereka yang memiliki kekuatan militeristik, atau mereka yang terpilih secara demokratis oleh rakyat atau kebanyakan orang. Motif kekuasaan bisa saja mementingkan harapan orang banyak, atau lebih memungkinkan menggunakannya untuk keperluan dan sarana kemakmuran pribadi dan atau keluarga. Dengan demikian kekuasaan selalu bergantung pada pendirian pemegangnya, sebab sejarah telah membukukan ragam jenis kekuasaan. Dimulai dari bentuk yang paling primitif, feodalistik, kapitalistik, fasistik, kediktatoran, totalitarian, hingga yang demokratik yang digadang-gadang memberi wewenang kepada khalayak umum. Kendati demikian, kekuasaan adalah hal yang paling problematik dalam sejarah manusia, sebab merupakan kendaraan yang bisa dipakai untuk apapun, termasuk menindas atau melenyapkan nyawa sekalipun. Di samping pilihan untuk menggunakannya sebagai alat kebajikan dan memuliakan mahluk hidup dan alam. Yang disebutkan terakhir adalah hal yang hampir mustahil dan utopis.

Kamis, 14 Mei 2015

Kapitalisme, Pemuda dan Saku

Ada suatu masa pemuda betul-betul dicampakkan dalam situasi yang paling curam, pasif dan tidak berkutik. Memang, di era modernisasi ini yang tengah memuncak (dalam artian ideologi dan budaya modern yang membungkus praktik kapitalisasi sektor penghidupan manusia) pemuda seolah diberikan ruang yang cukup luas untuk berkreasi dan beraktivitas dengan dalih dan alasan pembangunan. Entah pembangunan apa yang dimaksudkan, pemuda diharapkan tidak menggalinya jauh lebih dalam. Cukup saja pengetahuan seputar istilah “developmantalisme” adalah mekanisme yang menuju kebaruan dunia. Modern dalam istilah pembangunan dimaknai sebagai satuan sifat yang bentuknya baru namun belum tercipta diwaktu sebelumnya, dengan demikian era ini membutuhkan kreator, inovator, dan visioner. Semangat untuk berkreasi, kemampuan merancang sesuatu untuk kebutuhan inovasi, dan kelihaian menatap masa yang akan datang merupakan lingkup yang membutuhkan power dan skill para pemuda. Sadar ataupun tidak sadar situasi ini seolah menjadi pujian yang membesarkan kepala hingga tidak terasa lenaan ini betul-betul menyanjung para pemuda.  

Peta Paradigma Sosial

           Paradigma begitu banyak dipahami oleh khalayak sebagai alas atau kerangka pikir dalam mencoba menganalisis sesuatu untuk mendapatkan kesimpulan. Jika merujuk pada kamus ilmiah paradigma didefenisikan sebagai bentukan dari kata yang memperlihatkan konjugasi kata dan atau deklinasi kata. Dengan kata lain defenisi sederhana tersebut sudah menggambarkan bahwa paradigma akan menjadi pondasi sebuah teori, proses, perubahan, dan menjadi medan yang menarik pengikut semaksimal mungkin. Dengan demikian paradigma bukan sesuatu yang tunggal, namun bersifat heterogen. Dan juga tidak bersifat netral atau bebas nilai.  Sehingga yang memang akan terjadi adalah paradigma digunakan sebagai alat pendominasi pemikiran manusia. Jika memang seperti itu, Maka pertanyaan yang kemudian muncul adalah paradigma mana yang benar? Paradigma mana yang tidak harus ditanam pada memori? Apakah teori yang kita pelajari dan kembangkan sudah berlandaskan paradigma yang sesuai? Nah, tulisan ini tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan demikian.

Senin, 29 Desember 2014

SEJARAH BEKAL KEMERDEKAAN


"Merdeka hanyalah sebuah jembatan. Walaupun jembatan emas, di seberang jembatan itu jalan pecah dua, satu ke dunia sama rata sama rasa, satu ke dunia sama ratap sama tangis!”
~ Soekarno ~
Ratusan abad yang lalu, apabila kita telisik sejarah bangsa Indonesia hingga pada tangga yang paling dasar menurut para sejarawan, maka hal yang akan ditemukan adalah sebuah warna kehidupan pribumi primitif dibawah panji kebangsawanan. Ketertinggalan ternyata mengundang kekuatan lain untuk menguasai bangsa ini walaupun sebenarnya dalam tubuh bangsa ini termaktub kekuatan yang begitu besar. Tanpa pertimbangan yang begitu panjang, beberapa kapal layar megah kepemilikan bangsa Eropa berdatangan dengan dalih menjalin keakraban pada wilayah perdagangan. Dengan melihat potensi kekayaan alam yang dimiliki begitu melimpah, terutama bahan baku rempah, memancing hasrat kepemilikan secara pribadi guna keuntungan yang begitu besar, mengundang gairah eksplorasi yang berlebih untuk produksi yang berkelanjutan, dan memanggil pribadi-pribadi yang kokoh dalam pendiriannya melakukan monopoli atas kekayaan alam itu.

Kamis, 25 Juli 2013

INPRES KAMNAS


Rancangan Undang-Undang Keamanan Nasional (RUU KAMNAS) yang pada saat ini telah menjadi topik hangat di Dewan Perwakilan Rakyat menimbulkan kesan pro dan kontra terhadap kemunculannya, sehingga yang terjadi adalah sekelumik polemik serta mengundang banyak penentangan. Di pihak yang kontra, mereka menilai hal tersebut mengancam HAM, begitupun Demokrasi.
Namun, Ditengah perselisihan mengenai pandangan RUU KAMNAS di perwakilan, pemerintah di sisi lain telah menerbitkan Intruksi Presiden Untuk Keamanan Nasional (INPRES KAMNAS). Alasan yang dikemukakan mengenai terbitnya INPRES KAMNAS ini adalah sebagai upaya solutif untuk mengantisipasi gejolak sosial politik, sebagai bentuk reaksi semakin tingginya gangguan keamanan, kekerasan, dan konflik komunal, serta sebagai upaya peningkatan intensitas pemeliharaan keamanan dalam negeri. Alasan lain munculnya kebijakan pemerintah ini adalah sebagai respon terhadap kegagalan dalam proses tanggap pihak kepolisian dan pemerintah Daerah dalam mencegah dan menangani rusuh dan konflik yang kian marak terjadi belakangan ini.
Ini adalah sebuah langkah mundur yang dilakukan oleh pemerintah. Hal tersebut dikarenakan sebab kebijakan ini nyatanya pernah diterapakan di rezim ORDE BARU. Dan pertanyaan kemudian muncul, mengapa pemerintah tidak mengambil pelajaran dari sejarah kelam Indonesia ini. INPRES pada saat tersebut mengerahkan kekuatan militer dalam upaya penanganan keamanan diseluruh wilyah, dari pusat hingga ke daerah. namun sebagian tindakan yang diterima adalah tindakan yang represif, dan sebagian besar sangat bertentangan dengan norma yang berlaku, serta HAM tidak begitu ditegakkan.
Jika alasannya adalah sebuah kritik atau respon terhadap kelambatan, kelalaian, dan kegagalan dalam proses ketanggapan ataupun kepekaan kepolisian dan pemerintah daerah dalam penanganan serta pencegahan rusuh atau konflik, maka itu tidaklah cukup rasional. Hal tersebut bukanlah kondisi atau situasi yang mendesak pemerintah untuk sesegera mungkin memberlakukannya. atas landasan ini, maka muncullah dugaan ada alasan lain, ada kepentingan lain yang terselip dibalik keagresifan pemerintah untuk menerapkannya. seramestinya yang dilakukan pemerintah adalah bukannya menerbitkan INPRES tersebut dengan alasan-alasan sperti diatas, tetapi yang harus dilakukan adalah mengevaluasi kembali kinerja pihak-pihak terkait (Polisi dan Pemerintah Daerah), memberikan pengarahan, pengontrolan, dan melakukan upaya peningkatan akuntabilitas aparat keamanan dan aparat daerah di tiap-tiap daerah. Terbitnya INPRES KAMNAS ini seakan-akan memandang bahwa segala kerusuhan ataupun konflik yang terjadi itu disebabkan oleh Rakyat, akan tetapi pada akhirnya rakyat juga lah yang menjadi sasaran empuk untuk dijadikan sebagai korban.
Mengenai kekerasan, apa yang terjadi di berbagai daerah di bangsa ini merupakan akibat dan bentuk reaksi terhadap kekerasan Institusional, dimana lembaga-lembaga negara, pemerintah, tidak mampu mengeluarkan kebijaksanaan dalam penetapan kebijakan, ketidak-adilan, pengambilan keputusan sepihak, dilengserkannya hak-hak masyarakat sipil, dan ketidak transparansiannya terhadap rakyat, sehingga Rakyat cenderung hanya menjadi sebuah Objek yang mereka perlakukan semena-mena. karena rakyat menunjukkan reaksi serius. Maka muncul pula-lah tindakan represif dari pemerintah dengan pasukan keamanan.y sebagai reaksi juga terhadap kekrasan yang dilakukan rakyat. Menrut Dom Helder Camarra, Hal seperti ini telah menjadi siklus yang menetap dan terus terjadi, sebagaimana dia jelaskan dalam karyanya "Spiral Kekerasan".
Kita melihat, situasi ini menggambarkan adanya upaya dari segenap darah keturunan ORBA yang masih mengendap dalam tubuh pemerintahan untuk menghidupkan kembali rezimnya yang fasis, militerism, otoriter, totaliter, dan anti demokrasi. Dan hal tersebut tidak dapat dibiarkan, pejuang haruslah mulai bergerak....