Minggu, 01 Februari 2015

Resensi Buku "Lelaki Harimau."


 
Judul Buku: Lelaki Harimau
 
Penulis: Eka Kurniawan

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan I (Cover Baru): Agustus 2014

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-03-0749-7

Halaman: 204 halaman




 "Bukan aku yang membunhnya",
ia berkata dan melanjutkan,
"Ada harimau di dalam tubuhku"
.

Penggalan kalimat surealisme diatas saya kutip dari sebuah novel yang bersampulkan Lelaki Harimau buah karya bang Eka Kurniawan. Novel itu baru saja saya sudahi setelah bertukar bacaan dengan pemiliknya, Dg. Palinrang. Ia mendapatkannya dari bang Imamul Haq yang dikirimnya dari kota terpelajar Yogyakarta melalui perantara yang juga seorang kerabat kami, bung Fardan Ngoyo. Saya tertawa bersamanya ketika ia mengatakan bahwa buku itu dikirimkan padanya karena ia dianggap memiliki pola kebiasaan yang sama dengan Margio si tokoh utama, menengguk arak ketan putih, atau lazimnya dikenal dengan sebutan Ballo' di kampung halamannya. Yah, sering kali minuman jenis itu berkonotasi negatif, sejak mula diharamkannya pada masa kenabian sebab sembahyang para lelaki dibuatnya menjelma menjadi hinaan buat yang disembah, sang Khalik. Tapi  rekan saya Dg. Palinrang ini bersikukuh jikalau itu adalah obat, ia menggunakannya untuk ketahanan tubuhnya di saat-saat yang paling meletihkan, bukannya malah untuk pamer kejahilan dan juga obral masalah. Itu untuk kedamaian hati dan naluriahnya. Ia juga sering berkata setelah menengguk dengan damai,"Jangan sampai mabuk, sebab itu dosa".

Rupanya norma-norma yang ada, moralitas yang diakui dengan takaran salah-benarnya, adalah hal yang terlampau sederhana untuk memahami dan membatasi pedalaman jiwa dan kepribadian tiap manusia yang penuh lika-liku tajam. Moralitas di tengah kerumunan orang banyak berupa tantangan tiap individu yang memiliki asasi untuk menghadapi sekaligus menghargai asasi individu lainnya, terlepas dari anggapan asasi yang benar atau salah sekalipun. sebab, tidak satu manusia mampu mendalami kepribadian manusia lainnya, meski ia bergelar Doktoral di bidang Psycho. semua beralasan, dan alasan adalah pembenaran diri, dan pembenaran diri adalah pertahanan terakhir membela asasi. jadi jangan heran, ketika pembunuhan yang paling keji pun masih menyisakan alasan dibaliknya yang diteguhkan habis-habisan. maka sungguh moralitas belum cukup mampu membentengi manusia.

Dalam kisah Margio, ia sungguh hidup dalam kefanaan duniawi yang terus saja mencekam. Keluarga kecil yang jauh dari garis keharmonisan dan romantika, bahkan perjuangannya diabdikan hanya untuk mencari cara agar ibunya bisa tersenyum dengan rona merah pipi di wajahnya. Ia selalu saja kesal dengan Komar bin Syueb ayahnya sendiri yang dianggap pengeruh suasana seisi rumah dan hati para penghuninya. Dan Mameh adiknya, menjadi kawan setia di tiap tragedi penyiksaan yang tak manusiawi untuk ukuran seorang ayah. Hingga Margio tiap harinya terbangun selalu dengan niatan ingin membunuh ayahnya. Sungguh keluarga yang mengerikan, taburan kebencian tak pernah henti sebab telah membatu dan mengakar sejak lama. Keirian sang ibu di kala muda terhadap para gadis desa lain selalu  mendapat kiriman surat dan kosmetik dari sang pacar di kota adalah kewajaran untuk saat ia berusia 16 tahun namun itu terus terbawa, karena cintanya sungguh indah diawal. Sementara itu ia merasa masa mudanya sungguh penuh dengan penantian konyol, percintaan absurd, akibat belenggu perjodohan orang tuanya. Rupanya inilah hal ikhwal kebencian Nuraeni sang ibu yang juga beranak pinak seiring dengan lahirnya Margio dan Mameh. Roda kebencian yang tak kenal henti inilah yang melahirkan kebencian demi kebencian. Kecuali untuk kelahiran Marian si bungsu, itulah saat dimana Margio mendapati raut wajah ibunya berbinar serupa boneka jauh dari kesemrawutan dan kekusutan. Hal yang ia perjuangkan bertahun-tahun, tapi ia merasa itu bukan hasil perjuangannya. Namun Marian adalah sumbu amarah yang baru bagi Komar bin Syueb yang tidak merasa itu adalah buah dari persetubuhannya, siksaan demi siksaan pun ia layangkan pada sang ibu, tak jarang Margio dan Mameh sasaran lampiasan selanjutnya. Margio pun kadang berpikir bahwa itu adalah hal yang mustahil merupakan benih sang ayah yang telah uzhur.

Belakangan Margio mencurigai Anwar sadat tetangganya sebagai biangnya, sebab hanya rumahnya-lah tempat sang ibu bekerja sebagai pembersih-bersih rumah, bukan untuk diupah, namun satu-satunya pelarian sang ibu dari si ayah bejat yang tak manusiawi. Alasan lain mencurigainya ialah sifat hidung belangnya yang tidak pernah mampu mengimbangi nafsu di hadapan wanita cantik, dan itu telah menjadi rahasia umum di desa tempat ia menetap. akhirnya kesimpulannya menjadi bulat ketika ia pernah memergoki dengan diam-diam ibunya dan si Anwar bersenggema penuh desahan tanpa busana. ia agak tersesal dengan rasa keingintahuannya yang makin meninggi karena kehadiran Marian. Tidak ia merasakan air matanya mengucur deras tak tertahan, padahal ia kokoh sebagai manusia yang sering berburu di rimba raya bersama mayor Sadrah. Seketika ia merasa benci dengan segalanya, ia merasa dijadikan korban kebrutalan dan keganasan hidup bersama Mameh, oleh para komplotan orang tua itu. Sejak itu Bir dan Arak ketan putih jadi sahabat karibnya, tak jarang ia mengoplosnya dan menambahkannya dengan es. Pos ronda tempatnya keliuran malam, warung Agus Sofyan yang juga penuh perempuan binal, dan perkebunan terbengkalai menjadi arena yang ia paksakan menghiburkan dirinya, menjadi pemenuh kesehariannya yang galau hebat. Ia betul-betul menjadi penuh kebimbangan, Ia sangat menyayangi Ibunya, namun ibunya mengkhianati hubungan kekeluargaan mereka dengan bercumbu dengan tetangga si Anwar Sadat belang. Di lain sisi, Ia sangat membenci Ayahnya, bahkan sangat bergairah untuk membunuhnya, namun sekaligus ia mengasihaninya dan iba karena telah diselingkuhi istrinya.

Margio adalah sosok yang dikisahkan mendera dan menanggung kehidupan yang sungguh berat dijalani oleh manusia manapun. Keinginannya yang besar membunuh sang ayah adalah hal yang tinggal menunggu waktu yang tepat, sebab gumpalan kebenciannya terus tereproduksi menjadi gumpalan yang mengembang tanpa jeda dan henti. Walaupun pada akhirnya Komar bin Syueb meninggal bukan karena tangannya, kebenciannya tetap berlanjut untuk tidak memaafkannya. Tapi di sisi lain ia sangat senang, dan memang harusnya ia gembira. Dan Nuraeni belakangan pun menjadi pemurung lagi, sebab Marian telah berpulang lebih dulu dari Komar bin Syueb, dan kehadirannya sama sekali tak membuat sang ayah mesti perhatian. Itu makin menambah dendam kesumat Margio, setidaknya manusia keparat itu bisa menolong si bayi yang tak tahu soal menyoal permasalahan mereka. Pikiran Margio makin bercabang dan memilukan ketika Maharani hadir saat menggunakan sisa waktu liburnya di universitas dan menyatakan cinta terhadapnya, walaupun ia merasakan hal yang sama, bahkan telah tumbuh perasaan itu sejak mereka belia, namun itu penuh keganjalan. Dan tak mungkin, sebab ia adalah anak dari Anwar sadat yang telah menghamili ibunya. Margio betul-betul merasa ini adalah khianat yang kejam yang harus diturunkan padanya, Mameh, dan juga Maharani, Oleh orang-orang tua keparat itu.

Setelah kepulangan Maharani karena kesedihannya akan kenyataan di desa, di hari yang sama tersebarlah kabar kematian Anwar sadat setelah digigit dengan ganas oleh margio di bagian lehernya, hingga betul-betul nyaris putus. Mungkin itulah bentuk luapan amarah yang terakumulasi bertahun-tahun hidupnya dilimpahkan ke leher Sadat. Namun ia bersikukuh jikalau yang membunuhnya bukanlah dirinya saat ditanyai oleh Mayor Sadrah, ia berkata "Ada harimau di dalam diriku". Namun sesungguhnya Margio telah berupaya berdamai dengan kekelaman hidupnya, demi sang boneka tetap berona pipi merah dan tersenyum, si Ibu. Maka dari itu ia berkunjung ke rumah Anwar sadat untuk membicarakannya dalam damai. Sebelum kejadian mereka sempat bercakap, Margio mengatakan "Aku tahu jika engkau yang menghamili Ibuku dan hanya engkaulah yang bisa membuatnya bahagia", Anwar membalas "memang benar, tapi tidak mungkin menikahinya, seperti yang kau tahu aku punya istri dan anak". Sejenak mereka terdiam. Lalu Anwar Sadat kembali menimpali "lagi pula aku tidak mencintainya". Keluarlah harimau putih yang mengganas itu dari tubuh Margio dan menggilas leher Sadat.

Harimau itu adalah tak lain dari segala bentuk amarah, dendam, kebencian, kegelisahan, ketidakmanusiawian yang tak terkendali lagi, menyatu untuk menghakimi dan memaksakan pertanggungjawaban dari segala hal yang menghadirkannya. Kisah ini mendeskripsikan mengenai Cinta, Birahi, dan Pengkhianatan sebagai satu keutuhan unsur kepongahan hidup. Betapa kisah ini menjadi kian nyata untuk saat sekarang. Saat semua orang menyibukkan diri pada hal duniawiah, pertentangan, perselisihan, pertengkaran, yang menjelma menjadi kekerasan yang berspiral dan lagi lumrah. Hal yang mesti disadari dari kisah ini, saat membacanya orang mengira kebencian dan amarah berasal dari Nuraeni Muda yang dengki dengan orang lain sebab Komar tak jua berkirim kabar dalam surat serta komestik dari Kota, padahal sesungguhnya yang kejam dan bengis adalah Kota yang ditempati Komar mencari nafkah untuk kebutuhan prosesi pernikahannya kelak. Kota begitu menjanjikan, namun penuh pengingkaran. Komar yang punya ladang di desa Ayahnya Syueb disulap menjadi pekerja serabutan, tak punya pekerjaan tetap yang menghasilkan kemakmuran baginya, hingga akhirnya menjadi tukang cukur untuk ratusan kepala di Kota. Itulah mengapa ia tak berkirim surat, sebab ia tak tahu akan menulis apa, dan tak mungkin ia mengirimkan ribuan keluhan untuk kekasihnya di Desa. Maka saya tertarik mengutip kalimat Katrin Bandel di sampul belakang yang mengatakan bahwa "Kisah ini membuat kita menyadari betapa nilai-nilai moral yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari ternyata terlalu sederhana, tak memadai untuk menilai kehidupan manusia yang penuh liku-liku".

Seperti yang kita ketahui bahwa keadaan dunia yang didera penyakit pembangunan, telah menyesatkan pemikiran manusia. Ketertinggalan yang disinyalir sebagai benalu masyarakat diarahkan untuk meninggalkan nilai-nilai moral yang terbentuk secara tradisi yang penuh penyesuaian dengan teritori, kedaerahan tertentu, dan watak manusia-manusianya ke arah yang di sebut modern sebagaimana konsepsi pembangunan dipropagandakan. Perpindahan dari desa ke kota karena penuh pengharapan akan kesejahteraan yang di ikrarkan pembangunan adalah satu bentuk dari sekian banyak pengaruh aktor-aktor pembangun yang sesungguhnya tidak manusiawi dan tidak sedang membangun sesuatu apapun yang berkenaan dengan kesejahteraan apalagi kemakmuran. Kota malahan menjadi pabrik supra-efisensi dan efektivitas yang memiskinkan manusia dalam segala hal.