Baru-baru ini penyakit yang melekat ke sebagian besar mahasiswa rantau mengunjungiku, ialah Maag. Bertahun-tahun saya terbilang cukup sukses memanipulasi kebutuhan perut, yang isinya usus dan lambung itu guna terhindar darinya, dan pada akhirnya saya lengah, maka terjadilah peradangan yang membuat perutku nyeri dan keram sejak pukul 3.00 dini hari hingga magrib datang lagi. Rasanya betul-betul mengerikan, tiada nafsu apapun yang ada pada diri di saat seperti itu, kecuali untuk muntah dan mengeluh berikut rintihan-rintihan yang seharusnya tidak diperlukan untuk seorang pria. Seingatku, ada beberapa teman yang saya repotkan, termasuk sang pemilik rumah yang saya tumpangi, Dg. Palinrang yang sejak pagi merawatku bagaikan seorang suster lulusan kampus keperawatan yang betul-betul manusiawi. Ia merawat bukan karena motif tertentu, seperti uang atau apapun yang membuat sebagian besar orang pragmatis. Itu nampak tulus seperti tugas kemanusiaan yang tak diarahkan oleh gelar-gelar apapun. Atau boleh jadi, Ia hanya tidak ingin ada mayat perantau yang tergeletak di rumahnya, sebab urusannya bakal panjang.
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Kamis, 17 September 2015
Sabtu, 02 Mei 2015
Kata 'TIDAK' Yang Menggema
Pasar bebas telah mengalami metamorfosis mengerikan: kini Anda bebas memilih mau pergi ke pusat belanja yang mana, tapi toko-tokonya sama dan merk-merknya juga sama. Kebebasan awal palsu dalam tirani dagang, “penawaran bebas dan permintaan bebas”, koyak sudah.
(Essai Dunia: Tujuh Pemikiran di Bulan Mei 2003. Subcomandante Insurgente Marcos)
Perkembangan sistem pasar bebas
memang telah merebak kemana-mana, keseluruh pintu yang ada di muka Bumi.
Ungkapan Jubir Ejército Zapatista de
Liberación Nacional (EZLN) di atas yang fenomenal di Meksiko, cukup
menggambarkan metamorfosanya. Dalam perkembangannya yang sangat cepat, sistem
ini membuat segalanya cepat jadi usang. Dan karenanya sistem produksi dipompa
seproduktif mungkin, dan konsumsi digenjot segila mungkin. Dampaknya, usia
produk sangat singkat. Dengan demikian, usaha yang dilakukan agar penawaran
menghabiskan produk dalam usianya yang singkat, adalah menciptakan agama dan
kultur baru di tengah masyarakat konsumsi. Agama itu adalah Neo-liberalisme,
dan budaya yang diusung ialah budaya konsumtif. Bagaimana hal ini bisa
diterima? Bagi Marcos (2003) ini dilakukan dengan perang yang terkejam
sepanjang sejarah umat manusia.
Senin, 12 Januari 2015
KEMISKINAN MULTISEKTOR DEVELOPMENTALISME
Ada
satu fenomena yang khas di Indonesia ketika sebagian besar masyarakat memandang
kemiskinan seakan sama halnya dengan
yang selama ini mungkin dianggap sebagai bagian dari gejala dan hukum
alam, seperti layaknya bencana alam, peristiwa Tsunami yang sebab musababnya
menurut para teoritisi ilmu alam yang pada akhirnya akan sampai kepada
kesimpulan bahwa yang demikian itu adalah murni gejolak alam, dan memang
alamiah pada dasarnya. Dan masyarakatpun selebihnya mengiyakan. Kemiskinan
adalah suatu keadaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sosial
di Indonesia. Bahkan kemiskinan telah menempel berabad-abad jauh sebelum nama
bangsa ini terumuskan sama sekali. Namun dibalik Kemiskinan yang telah
menyejarah itu, bahkan kita belum menemukan sisi yang sempurna untuk
menjelaskannya dengan baik. Kemiskinan yang selama ini cenderung dipandang
secara ekonomik atau dari sisi kepemilikan materil, justru membuat para
teoritisi pada umumnya melihat itu sebagai fenomena sosial yang sama halnya
dengan fenomena alam. Kemiskinan pada akhirnya dipandang sama dengan peristiwa
Tsunami yang terjadi secara alamiah, yang dimana para teoritisi dan birokrat
pemerintahan seolah-olah memposisikan kemiskinan dan Tsunami berada pada satu
tempat yang sama, yakni suatu peristiwa yang melahirkan korban-korban yang
patut untuk diperhatikan, dan bentuk perhatiannya adalah kurang lebih sama
dengan memberikan pencerahan bahwa sebagai manusia yang tengah dilanda bencana
dan kesusahan mesti bersabar sebab mereka secara kebetulan terkena gejolak alam
yang ganas, dan olehnya itu mereka layak mendapat santunan sosial sebagai
solusinya.
Senin, 29 Desember 2014
Indonesia Dan Asean Economic Community (AEC)
Arah Asean Economic Community
Masyarakat Ekonomi
Asean (MEA) atau Asean Economic Community (AEC)
merupakan salah satu kebijakan ekonomi yang disepakati sepuluh negara di
wilayah Asia Tenggara yang tergabung dalam wadah ASEAN, salah satunya ialah
Indonesia. Hal prinsipil dalam kesepakatan tersebut adalah mengintegrasikan
ekonomi regional Asia tenggara pada satu pasar tunggal dan basis produksi
bersama. Sekilas terdengar positif di telinga ekonom konvensional Indonesia,
sebab hal tersebut dianggap sebagai peluang bagi Indonesia untuk bersaing
dikancah ekonomi regional ataupun global yang tentu menurutnya akan menghadirkan
keuntungan bagi masa depan bangsa. Dengan adanya AEC, Indonesia diyakini mampu
memanfaatkan Potensi SDM serta SDA-nya untuk dikompetisikan pada pasar tingkat
regional tersebut. Namun jika melihat perekonomian nasional saat ini,
berdasarkan pengalaman kerja sama bilateral ataupun multilateral Indonesia,
sama sekali tak terlihat hal yang menguntungkan pada sisi perekonomian, bahkan
jauh dari harapan yang diidam-idamkan, sebab Indonesia hanya menjadi pemasok
keuntungan bagi mitra kerja samanya sekaligus menjadi sasaran pasar. Hal tersebut mesti dijadikan pelajaran
jika Indonesia tidak ingin kembali menjadi objek pasar pada kesepakatan ekonomi
kawasan Asia tenggara (AEC) yang lebih kompetitif yang didukung dengan
kesepakatan kebijakan penghilangan beberapa filter seperti tarif bea masuk dan
keluar ataupun halangan yang non-tarif sebagai hasil pencabutan batas-batas
nasionalitas, geografis, dan teritorial atas bangsa-bangsa di dalam lingkup
ASEAN.
Langganan:
Postingan (Atom)
