Kekuasaan tidak lain adalah kepemilikan otoritas
untuk mengatur sesuatu yang dikuasai. Kuasa bisa dimiliki oleh ia yang
merupakan pewaris dari autokrasi, oleh mereka yang bangsawan, oleh mereka yang
memiliki cap kemuliaan berdasarkan kepemilikan modal, oleh mereka yang memiliki
kekuatan militeristik, atau mereka yang terpilih secara demokratis oleh rakyat
atau kebanyakan orang. Motif kekuasaan bisa saja mementingkan harapan orang
banyak, atau lebih memungkinkan menggunakannya untuk keperluan dan sarana
kemakmuran pribadi dan atau keluarga. Dengan demikian kekuasaan selalu
bergantung pada pendirian pemegangnya, sebab sejarah telah membukukan ragam
jenis kekuasaan. Dimulai dari bentuk yang paling primitif, feodalistik,
kapitalistik, fasistik, kediktatoran, totalitarian, hingga yang demokratik yang
digadang-gadang memberi wewenang kepada khalayak umum. Kendati demikian,
kekuasaan adalah hal yang paling problematik dalam sejarah manusia, sebab
merupakan kendaraan yang bisa dipakai untuk apapun, termasuk menindas atau
melenyapkan nyawa sekalipun. Di samping pilihan untuk menggunakannya sebagai
alat kebajikan dan memuliakan mahluk hidup dan alam. Yang disebutkan terakhir
adalah hal yang hampir mustahil dan utopis.
Sabtu, 06 Juni 2015
Kamis, 14 Mei 2015
Selongsong Peluru Bekas
Hari
ini hidup kami seperti selongsong peluru,
Peluru
yang telah diledakkan oleh revolver,
Peluru
yang telah kehilangan mesiu dan ujung yang runcing,
Peluru
yang berpantat gosong karena ditendang pelatuk,
Peluru
yang tak lagi berelasi dengan kekeran,
Peluru
yang tak terpakai lagi,
Peluru
yang segera tergantikan,
Oleh
yang akan bernasib serupa,
Maka
kami adalah peluru yang bukan peluru lagi…
Kapitalisme, Pemuda dan Saku
Ada suatu masa
pemuda betul-betul dicampakkan dalam situasi yang paling curam, pasif dan tidak
berkutik. Memang, di era modernisasi ini yang tengah memuncak (dalam artian
ideologi dan budaya modern yang membungkus praktik kapitalisasi sektor
penghidupan manusia) pemuda seolah diberikan ruang yang cukup luas untuk
berkreasi dan beraktivitas dengan dalih dan alasan pembangunan. Entah
pembangunan apa yang dimaksudkan, pemuda diharapkan tidak menggalinya jauh
lebih dalam. Cukup saja pengetahuan seputar istilah “developmantalisme” adalah
mekanisme yang menuju kebaruan dunia. Modern dalam istilah pembangunan dimaknai
sebagai satuan sifat yang bentuknya baru namun belum tercipta diwaktu
sebelumnya, dengan demikian era ini membutuhkan kreator, inovator, dan visioner.
Semangat untuk berkreasi, kemampuan merancang sesuatu untuk kebutuhan inovasi,
dan kelihaian menatap masa yang akan datang merupakan lingkup yang membutuhkan power dan skill para pemuda. Sadar ataupun tidak sadar situasi ini seolah
menjadi pujian yang membesarkan kepala hingga tidak terasa lenaan ini
betul-betul menyanjung para pemuda.
Peta Paradigma Sosial
Paradigma begitu banyak dipahami
oleh khalayak sebagai alas atau kerangka pikir dalam mencoba menganalisis
sesuatu untuk mendapatkan kesimpulan. Jika merujuk pada kamus ilmiah paradigma
didefenisikan sebagai bentukan dari kata yang memperlihatkan konjugasi kata dan
atau deklinasi kata. Dengan kata lain defenisi sederhana tersebut sudah
menggambarkan bahwa paradigma akan menjadi pondasi sebuah teori, proses,
perubahan, dan menjadi medan yang menarik pengikut semaksimal mungkin. Dengan
demikian paradigma bukan sesuatu yang tunggal, namun bersifat heterogen. Dan
juga tidak bersifat netral atau bebas nilai.
Sehingga yang memang akan terjadi adalah paradigma digunakan sebagai
alat pendominasi pemikiran manusia. Jika memang seperti itu, Maka pertanyaan
yang kemudian muncul adalah paradigma mana yang benar? Paradigma mana yang
tidak harus ditanam pada memori? Apakah teori yang kita pelajari dan kembangkan
sudah berlandaskan paradigma yang sesuai? Nah, tulisan ini tidak akan menjawab
pertanyaan-pertanyaan demikian.
Kamis, 07 Mei 2015
Resensi Buku "Teguh Anak Jadah"
PENULIS : A.D. DONGGO
PENERBIT : OMBAK
TAHUN : TERBITAN PERTAMA THN 2005
TEBAL : iv +
436 hlm : 11.5 x 17 cm
ISBN : 979-3472-20-0
HARAMKAH DAKU
Menangislah engkau di kamar sempit itu
Ketika Semesta telah menyambutmu dengan
atmosfernya
Tangis garang memecah hening malam yang
gulita
Namun Bumi tersenyum engkau hadir tepat
di perutnya
Ingin sekali baginya memelukmu erat
Menyanjungmu…
Menjadi yang pertama menyapamu…
Mencium keningmu seraya membisikkan doa
terbaiknya
Mencari kupingmu untuk ia kumandangkan
panggilan ibadah
Langganan:
Postingan (Atom)


